Partisipasi FAI Unikarta Dalam ICEISC Ke-2 FTIK IAIN Samarinda

SAMARINDA – FAI Unikarta turut berpartisipasi dalam even internasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Institut Agama Islam negeri (IAIN) Samarinda yaitu The Second (2ndInternational Conference on Education and Islamic Culture (ICEISC) di Samarinda dengan tema “Revitalizing the Role of Islamic Higher Education Toward Cultural Transformation and Radicalism Prevention”(15/02/2018). Hadir dalam kegiatan tersebut Dekan FAI H. Mubarak, S.Pd.I., M.Pd.I, Wakil Dekan I, H. Sofian Efendi, S.Ag., M.Pd., Ketua Program Studi PAI Adinata R. Idris, S.Sos.I., M.Pd. dan Bagian Kemahasiswaan Mukmin, S.Pd.I. Dekan FAI turut berpartisipasi sebagai Local Presenter dalam kegiatan tersebut dengan artikel berjudul “Wawasan Budaya Islam Lokal melalui Pembelajaran di PTKI (Tradisi Studi Islam Berkearifan Kultural).”

Mubarak dalam presentasinya mengatakan bahwa Islam secara esensial dibangun di atas pondasi yang sakral melalui keimanan, ibadah, moralitas, dan nilai-nilai. Menurutnya dalam penghayatannya ajaran Islam itu mewujud bersama interaksinya yang intens dalam praktik kehidupan suatu masyarakat di tempat, situasi, dan lingkungan yang berbeda-beda. Katanya,  melalui wujud inilah Islam hadir bersama-sama kebudayaan suatu masyarakat dan menjadi praktik yang profan sehingga termanifestasi menjadi budaya Islam lokal sebagai hasil akulturasi.

Dia juga mengatakan bahwa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dituntut untuk menyebarluaskan ajaran dan nilai-nilai Islam melalui dunia pendidikan. PTKI menjadi wadah pengembangan mutu dan tradisi studi Islam yang menyeimbangkan kekuatan materi dan metode pembelajarannya. Mengupayakan budaya Islam lokal sebagai bagian dari tradisi studi Islam di PTKI adalah keniscayaan mengingat ajaran Islam bersama interaksinya di masyarakat akan terus berlangsung sebagaimana ajaran Islam itu yang selalu relevan sepanjang masa (al Islām şāliĥ likulli zamān wa makān). Dia menegaskan bahwa konsep ilmiah pengetahuan tentang budaya Islam lokal ini harus dibangun di atas pondasi yang kokoh secara filosofis dan epistemologis. Dimana dengan mengkaji budaya Islam lokal ini sebagai wawasan ilmu pengetahuan maka ia akan menjadi tradisi studi Islam yang berkearifan kultural, yang tentunya dapat ditinjau melalui pembelajaran di PTKI.

Akhirnya, dia menyimpulkan bahwa: (1) Budaya Islam lokal sebagai wawasan berupaya menempatkan cara pandang dan pemikiran terhadap pengamalan ajaran Islam sebagai hasil akulturasi bersama kebudayaan suatu masyarakat, atau menempatkan budaya suatu masyarakat sebagai budaya baru, sebagai hasil akultrasi bersama ajaran Islam dalam lintasan sejarah dan fenomena aktual yang berkembang di dalam masyarakat; (2) Wawasan budaya Islam lokal dalam tradisi studi Islam selayaknya memperoleh tempat untuk menjelaskan fenomena kultural masyarakat Muslim, baik secara fungsional maupun struktural-fungsional, dalam kaitannya dengan nilai, norma, simbol, pola, adat-istiadat, sistem kepercayaan dan lain sebagainya, yang dipraktekkan oleh masyarakat Muslim sepanjang sejarahnya dalam berbagai macam latar belakang historis, sosial-budaya, dan tradisi; (3) Wawasan budaya Islam lokal yang berkearifan kultural sangat berkepentingan terhadap nilai-nilai lokal suatu masyarakat, seperti: nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, persaudaraan, dan sikap keteladanan bisa menjadi modal sosial yang efektif dalam menjalin, memelihara dan mengembangkan hubungan harmonis dalam kehidupan sosial; dan (4) Pembelajaran wawasan budaya Islam lokal di PTKI cukup penting sehingga PTKI perlu bertransformasi sebagai organisasi pembelajaran yang membangun pemahaman kolektif yang luas melalui kegiatan-kegiatan dan sistem-sistem secara keseluruhan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *