,

MOU bersama Monash University dan Australia Indonesia Science Symposium (AISS) di Canberra, Australia

Pada tanggal 23 November 2016  Rektor melanjutkan penerbangan ke Australia bersama Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) dan beberapa Rektor Perguruan Tinggi yang lain melakukan MOU dan visiting ke  beberapa Perguruan Tinggi  di Australia. Salah satu Perguruan Tinggi Australia yang menjadi pilihan adalah Monash University. Saat ini  Monash University menempati  urutan 67 World Class University dan menjadi sangat wajar Monash University masuk 100 besar dunia karena semua berstandar internasional baik sarana dan prasarana, riset, pengabdian, kerjasama dunia, hingga  jumlah mahasiswa asing tidak di ragukan lagi keberadaannya.

Monash University memiliki mahasiswa yang terdaftar dan aktif (Student Enrolment) berjumlah 70.071 orang dengan komposisi mahasiswa domestic 65% sementara mahasiswa Internasional 37% dengan total research income sebesar $342 Miliar. Begitu juga dengan jumlah tenaga pengajar sebanyak 7.579 orang dengan porsi 43% Akademisi dan 57% Profesional. Selanjutnya dilihat dari komposisi mahasiswa internasional yang berjumlah 26.201 orang Indonesia termasuk 4 besar penyumbang mahasiswa terbanyak  di Monash yaitu 929 orang, nomor pertama ditempati china dengan jumlah mahasiswa 7.852 orang. Bahkan Australia sendiri pada saat ini menurut Duta Besar Indonesia untuk Australia, Nadjib Riphat Kesoema sedang fokus mengembangkan service dan agricultural, untuk service Pemerintah Ausralia telah melakukan akselarasi layanan dibidang perbankan, Tourism dan pendidikan, khusus untuk pendidikan tinggi, Pengelolaan Pendidikan Tinggi (Higher Education Management). Australia adalah terbaik di dunia, hal ini dibuktikan dengan pemeringkatan World Class University yang dilakukan Webometric, QS World Ranking, ICU menempatkan Universitas-Universitas di Australia seperti  Monash University, Australia National University, Melbourne Univ, Flinders University, LA Trobe University dan lainnya rata-rata menempati 100 Besar dunia.

Sebagai Negara yang memiliki Pengelolaan Perguruan Tinggi terbaik didunia, sekarang Australia menjadi tempat tujuan bagi warga negara lainnya untuk studi di Australia termasuk Indonesia. Sekarang ada sekitar 159.000 anak muda Indonesia kuliah di Australia artinya Indonesia adalah pasar empuk bagi pemerintah Australia guna menarik sebanyak-banyak warga Indonesia untuk kuliah di Australia bahkan kemarin ada beberapa Warga kutai kartanegara yang menempuh studi Pasca sarjana.

Penanda tanganan MOU antara Rektor Unikarta dan Vice Cancellor Monash University berlangsung di gedung Pertemuan Monash University Australia dengan fokus kerjasama dibidang leadership Traning, Guest Lecture, pengembangn SDM, riset dan pengembangan.

Kemudian khusus untuk program agroteknologi pemerintah Australia mengembangkan tanaman gandum dan produk pertanian dalam arti luas termasuk perternakan sapi yang sudah terkenal di indonesia. Australia yang  berpenduduk 24 Juta orang dengan hamparan benua yang cukup luas  memberikan pandangan bagaimana pengembangan sektor Pertanian dalam arti  luas serta pengembangan sektor pariwisata yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi pendapatan perkapita income serta  pertumbuhan ekonomi Australia itu sendiri.

Dihari ketiga Rektor menyempatkan diri untuk mengikuti Simposium Internasional AISS di Canberra tepatnya di Shine Dome Canberra. Symposium ini diikuti oleh para akademisi, peneliti, lembaga pemerintah Indonesia dan Australia termasuk Menteri PPN/Bappenas Prof. Bambang Brojonegoro. AISS  bertujuan untuk lebih mempererat kolaborasi antar Indonesia dan Australia kaitan dengan  riset bersama dibidang Kesehatan, Kemaritiman, Agricultur dan lainnya.

Kemudian di Hari keempat pasca MOU dengan Monash University Rektor bersama ketua APTISI Pusat melakukan road show ke Beberapa Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Australia diantaranya Australian University dan University of Canberra.

“Belajar dari Australia dan Korea Selatan kaitan dengan pengembangan Perguruan Tinggi Investasi yang dikeluarkan publik dan swasta termasuk kontribusi keuangan dari pemerintah Australia dan Korea Selatan sangat besar karena salah satu poin untuk melakukan transformasi dan akeselerasi perguruan Tinggi di Kedua Negara tersebut adalah kontribusi pendanaan yang sangat besar  dari pemerintah sehingga mereka mampu untuk masuk ke World Class University. Begitu juga partisipasi dari pihak Swasta dan masyarakat juga cukup besar dalam rangka membantu pembiayaan yang diperlukan pihak Perguruan Tinggi, disamping itu juga hal yang paling penting adalah pembenahan secara internal terkait International  Higher Quality Assurance yang sudah berbasis International Standard Organization. Sehinga wajar hari ini interkoneksitas antara Perguruan Tinggi dan Dunia industri di Korea selatan mampu menghasilkan produk IT yang sangat maju begitu juga dengan Australia sebagai salah satu Negara yang memiliki system Pendidikan tinggi terbaik di dunia (The Best higher education systems in the world) sehingga sangat wajar  Perguruan Tinggi nya sudah masuk ke jajaran 100 World Class University.” tulis Rektor.

Point penting dari kunjungan Rektor ke beberapa Perguruan Tinggi di Austalia maupun ke JEIU Korea Selatan yang bisa disimpulkan adalah jika ingin maju, terus lakukan inovasi tiada henti (Relentless innovation), kembangkan kepemimpinan yang baik secara konsisten dan terus menerus baik di level low, middle dan top. Pemimpin harus terdepan dalam perubahan, pemimpin harus mampu memberikan ketauladanan (Role Model) kepada bawahannya karena hakekat dari kepemimpinan  adalah “Leadership is the relationship in which one person or  the leader influences others to work to gether willingly on related tasks to attain that which the leader desire” (Terry, 1971).

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *